Selasa, 04 Juni 2013

MAKALAH
NILAI-NILAI DEMOKRASI PADA METODE PEMBELAJARAN KOPERATIF MODEL TEAMS GAMES TOURNAMENS ( TGT) UNTUK PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN DI INDONESIA  MENGHADAPI TANTANGAN MASA DEPAN



Oleh :
Drs. SARYANTO, S.Pd, M.Pd
FKIP-UT pada UPBJJ PURWOKERTO








Telah di Seminarkan Pada Seminar Nasional
Pada Tanggal 7 September 2005 di UPBJJ-UT Purwokerto













PANITIA SEMINAR NASIONAL
UNIT PROGRAM BELAJAR JARAK JAUH
PURWOKERTO
2005




Abnstrak : Sejarah umat manusia menunjukkan bahwa pendidikan selalu mengabdi pada nilai-nilai luhur bagi manusia dan kemanusiaan. Pada masa pemerintahan Orde Baru atau bahkan sebelum-nya, terdapat kecenderungan bahwa sistem pendidikan di Indonesia diatur oleh pemerintah pusat (centralistis) atau berpusat pada satu tangan. Belajar dari keberhasilan pembangunan pendidikan di Negara lain yang telah maju seperti pada negeri Perancis dan negara USA mungkin dapat dipakai se-bagai acuan pembangunan sistem pendidikan di Indonesia.Sistem pembangunan pendidikan di Indo-nesia yang telah lama dilakukan secara centralistis, perlu dilakukan perubahan atau reformasi. Kata pendidikan dalam arti luas dapat berarti pendidikan formal dan dapat berarti pendidikan non formal. Sedangkan pendidikan dalam arti sempit dapat berarti proses pembelajaran yang terjadi dalam ru-ang kelas. Reformasi pendidikan ini berfokus pada upaya menumbuhkan nilai-nilai demokrasi me-lalui proses pembelajaran siswa dalam ruang kelas menggunakan metode pembelajaran koperatif matematika model Teams Games Tournaments ( TGT). Pembelajaran koperatif model TGT mempu-nyai 4 komponen dasar yaitu:
1.Tahap Presentase Guru secara klasikal
2.Tahap Pelatihan Pembelajaran Model TGT
3.Tahap Team Game Turnament
4. Penentuan hadiah kemenangan team ( Slavin, 1986, 1994)
Kata Kunci:
Input : Sejarah umat manusia menunjukkan bahwa pendidikan selalu mengabdi pada nilai-nilai luhur
            bagi manusia dan kemanusiaan.
Output: Jeans Jacuas Rouseau ( 1712- 1778), mengemukakan pendapatnya tentang pendidikan pada suatu buku berjudul Emile, seperti berikut:” Semua adalah baik pada waktu dilahirkan oleh sang pencipta, tetapi menjadi rusak oleh ulah tangan manusia”.

I. Pendahuluan

A.Latar Belakang
          Sejarah umat manusia menunjukkan bahwa pendidikan selalu mengabdi pada nilai-nilai luhur bagi manusia dan kemanusiaan. Pengalaman Negara Perancis mendidik bangsanya dalam mengha-dapi  tantangan ( masalah) kekuasaan raja absolut, Jean Jacues Rousseau (1712-1778), mengemukakan pendapatnya tentang pendidikan pada suatu buku berjudul Emile, seperti berikut: “ Semua adalah baik pada waktu dilahirkan oleh Sang Pencipta, tetapi menjadi rusak oleh ulah tangan manusia”.  Dengan perkataan lain bahwa pendidikan menjadi rusak karena ulah atau campur tangan manusia ( raja ) yang sangat absolut. Pendapat Jean Jacuas Rousseau tersebut merupakan kritik terhadap sistem pendidikan yang sudah terpuruk di negeri Perancis, sehingga perlu ada perubahan sistem pendidikan.
          Negara Amerika Serikat, yang sudah menjadi Negara majupun selalu mengubah sistem pendidikannya agar sesuai dengan perkembangan jaman sehingga dapat mengatasi tantangan masa depan yang selalu berubah. Pada awal tahun 1988, Mr Harris selaku sepala sekolah dasar di sub urban ( pinggiran kota ) Maplewood USA, mengumumkan program pembelajaran koperatif sebagai tujuan resmi program sekolah. Maplewood adalah suatu wilayah kota ( urban) setingkat kabupaten dan letaknya di daerah pantai atlantik bagian tengah ( mid Atlantic) di USA.
                                                                                  1
                                                                                                                                                              2
Kolaborasi kepala sekolah dengan guru-guru sekolah dasar di sub urban Maplewood terha-dap metode pembelajaran koperatif, motivasi para guru sekolah dasar tersebut untuk melaku-kan tindakan pembelajaran menggunakan metode pembelajaran koperatif.
          Miss Grant’s, seorang guru sekolah dasar sub urban Maplewood dengan menggunakan metode pembelajaran koperatif model Teams Games Tournaments ( TGT ) pada pembelajaran matematika siswa kelas 4, berhasil meningkatkan prestasi belajar matematika siswanya.
          Mr Parkers, seorang guru sekolah dasar sub urban Maplewood dengan menggunakan metode pembelajaran koperatif model Learning Together ( LT ) pada kelas 6 ( kelas social) dalam proses pembelajaran bahasa Inggris, berhasil meningkatkan belajar siswa kelas ( bahasa Inggris sebagai bahasa kedua atau English Sacundair Learning ( ESL).
          Keberhasilan para guru sekolah dasar sub urban Maplewood dalam menggunakan metode pembelajaran koperatif, berdampak positip pada sekolah dasar tersebut memperoleh reputasi nama baik, yaitu tingginya kualitas pendidikan ( skor SAT ) selalu di atas skor rata-rata nasional). Dampak positip lain dari keberhasilan sekolah dasar sub urban Maplewood, yaitu banyak orang tua siswa dari berbagai penjuru wilayah tertarik perhatiannya untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah dasar sub urban Maplewood.
          Pembelajaran koperatif dilihat dari sudut pandang konstruktivisme adalah berfokur pada konstruktivisme sosiologis dari Vygotsky yaitu bahwa masyarakatlah yang membangun pengetahuan.  Menurut pandangan konstruktivisme sosiologis dari Vygotsky ini, adalah bahwa fungsi mental yang tinggi bergerak antara seseorang dengan orang lain ( between people) dan di dalam individu ( with in individual ). Sedang internalisasi dipandang sebagai proses transformasi dari aktivitas eksternal ke aktivitas internal ( Vygotsky, L.S, 1978).
          Jadi dalam pembelajaran koperatif model TGT matematika, proses pembelajaran lebih menekankan nilai kerjasama atau saling membantu sesame anggota team atau memperhatikan nilai potensi setiap individu yaitu siswa yang pandai membantu siswa yang kepandaiannya sedang atau yang kurang pandai secara team atau demokrasi. Dampak positip dari pembelajaran koperatif adalah bahwa hasil prestasi belajar siswa secara individual maupun hasil prestasi belajar secara team juga meningkat.
          Belajar dari keberhasilan pembangunan pendidikan di Negara lain mungkin dapat dipakai sebagai acuan pembangunan sistem pendidikan di Indonesia. Pada masa pemerintahan Orde Ba-ru  atau bahkan sebelumnya, terdapat kecenderungan bahwa sistem pendidikan diatur oleh pemerintah pusat ( Centralistis) atau berpusat pada satu tangan. Sistem pembangunan

                                                                                                                                                                3          
pendidikan di Indonesia yang telah lama dilakukan secara centralistis, perlu dilakukan perubahan ataui reformasi.
          Reformasi dalam bidang pendidikan di Indonesia bertujuan untuk mengembalikan kepada sistem pendidikan yang mengarah kepada nilai-nilai yang demokratis dan menghapus sistem pendidikan berpusat pada satu tangan atau centralistik. Pendidikan demokratis dapat dimaknai sebagai berikut:
1. Setiap warga negara berhak menikmati pendidikan.
2. Setiap warga Negara mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan.
3. Hak dan kesempatan setiap warga negara berdasar pada kemampuan masing-masing.
          Dari prinsip-prinsip demokrasi pendidikan tersebut dapat dipahami bahwa ide-ide dan nilai-nilai sistem pendidikan demokrasi di Indonesia disesuaikan dengan sistem nilai Pancasila dan UUD ’45.
          Jika prinsip demokrasi dikaitkan dengan penanggung jawab pendidikan, yaitu orang tua siswa dan masyarakat, maka orang tua siswa dan masyarakatlah yang membangun pendidikan ( masyarakat sebagai subyek pembangunan pendidikan), bukan lagi masyarakat sebagai obyek pembangunan pendidikan. Dan secara bertahap wewenang pemerintah pusat dalam bidang pendidikan akan dikurangi dan dialihkan kewenangannya ke pemerintah daerah atau otonomi daerah dalam bidang pendidikan.
          Lengsernya keprabon Pak Soeharto dari jabatan Presiden tanggal  21 Mei 1998, menjadi tonggak sejarah dalam kerangka pembangunan pendidikan di Indonesia dari pembanguan se-cara centralistic menuju ke pembangunan pendidikan berbasis masyarakat yang demokratis.
          Dari uraian diatas kiranya perlu untuk memberikan makna yang jelas dan tegas tentang nilai-nilai demokrasi yang tersirat pada metode pembelajaran koperatif model Teams Games To-urnaments ( TGT) dalam pembelajaran matematika , guna peningkatan mutu pendidikan Indo-nesia dan mampu menghadapi tantangan masa depan.
          Berdasar pada penjelasan tersebut di atas, di dalam seminar nasional ini, penulis akan membahas makalah ini dengan judul : “ Nilai-Nilai Demokrasi Pada Metode Pembel-ajaran Koperatif Model Teams Games Tournaments (TGT) Untuk Peningkatan Mutu Pendidikan Di In-donesia Menghadapi Tantangan Masa depan”.
          Berdasarkan pada judul makalah tersebut, maka dapat dirumuskan makalah seperti tersebut di bawah ini.
                                                                                                                                                         4
II. Rumusan Masalah
          Secara umum masalah yang dirumuskan dalam makalah ini adalah :  Apakah nilai-nilai demo-krasi teraktualisasikan pada metode pembelajaran koperatif model Teams Games Tournaments (TGT) Matematika?
          Dari pertanyaan di atas, diidentifikasikan beberapa sub pertanyaan seperti tersebut di bawah ini:
1. Bagaimana secara historis lahirnya metode pembelajaran koperatif  model Teams Games        
    Tournaments (TGT) digunakan dalam pembelajaran matematika kelas 4 Sekolah Dasar Maple-  
     wood?
2. Apakah nilai-nilai demokrasi tersirat pada metode pembelajaran koperatif model TGT?
3. Bagaimana konsep model pembelajaran TGT?
III. Pembahasan
A. Tinjauan Historis Lahirnya Pembelajaran Koperatif Model Teams Games Tournaments ?
          Maplewood adalah suatu wilayah kota tingkat kabupaten, terletak di daerah pantai Atlantik bagian tengah ( Mid-Atlantic ) di negara USA. Selama periode 1980 seiring dengan perubahan demografis ( perubahan kependudukan ), jumlah populasi (penduduk ) kaum minoritas dan beragam etnis di kota Maplewood terjadi peningkatan yaitu dari sekitar 13 % pada tahun 1975, menjadi 30 % pada tahun 1985.  Perubahan kenaikan jumlah populasi yang beragam etnis tersebut, sebagai akibat arus pengungsi orang Vietnam dan orang Salvador. Sedangkan pada tahun 1988-1989 perubahan populasi minoritas meningkat menjadi 32 %.
          Keaneka ragaman populasi etnis kota Maplewood, maka input siswa sekolah dasar di sub urban Maplewood juga beragam etnis. Hal ini dapat kita lihat dari data siswa sekolah dasar sub urban Maplewood, seperti tersebut di bawah ini:
Pada tahun 1990 sekolah dasar sub urban Maplewood berkapasitas 1000 orang siswa ( kelas 1 s.d 8 ), sedangkan dari jumlah tersebut, 625 orang adalah sebagai siswa kelas 1 s.d 6. Jika di lihat dari segi etnis siswa sekolah dasar sub urban Maplewood terdiri dari etnis keturunan Eropa 50 %, etnis keturunan Afrika 18 %, etnis keturunan Asia 16 %, etnis keturunan Spanyol dan Portugis 15 %, etnis kleturunan pribumi (Indian) adalah 1 % ( Jacob Evelyn, 1999).

                                                                                                                                                      5
          Pembelajaran koperatif adalah suatu metode pembelajaran kelompok yang anggotanya heterogen dan bekerja sama dalam melaksanakan tugas akademik ( DW Johnson, Maruyama, R T Johnson, Nelson & Skon 1981, Sharan, 1980, Slavin, 1990, 1996).
          Berdasar hasil penelitian eksperimen menunjukkan bahwa metode pembelajaran koperatif merupakan metode pembelajaran yang efektif  (DW Johnson, Maruyama, R T Johnson, Nelson & Skon 1981, Sharan, 1980, Slavin, 1990, 1996).
          Pada awal tahun 1988, Mr Harris selaku kepala sekolah dasar yang terletak di pnggiran ( sub urban ) Maplewood , mengumumkan program pembelajaran koperatif sebagai tujuan resmi program sekolah.
          Dari faktor-faktor yang telah disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa suasana di sekolah dasar sub urban Maplewood mendukung bagi terlaksananya program pembelajaran koperatif tersebut ( Jacob Evelyn, 1999). 
          Suasana di sekolah yang mendukung bagi terlaksananya program pembelajaran koperatif, motivasi bapak ibu staf dewan guru untuk mengaplikasikan metode pembelajaran koperatif, sehingga berkembang menjadi banyak model. Miss Grants dan Mr Parkers adalah dua dari guru sekolah dasar sub urban Maplewood yang mencoba melaksanakan metode pembelajaran koperatif.
          Pelaksanaan pembelajaran koperatif di sekolah dasr sub urban Maplewood antara lain seperti tersebut di bawah ini.
1. Miss Grants pada kelas 4 ( kelsa matematika ) dalam proses pembelajaran matematika menggu-  
    nakan metode pembelajaran koperatif model Teams Games Tournaments ( TGT ).
2. Mr Parkers pada kelas 6 ( kelas social ) dalam proses pembelajaran bahasa Inggris menggunakan
     metode pembelajaran koperatif model Learning Together ( LT)
          Jadi lahirnya metode pembelajaran koperatif  model TGT  di sekolah dasar sub urban Maplewood  karena suasana sekolahnya mendukung, yaitu :
1. Kepala sekolahnya memberlakukan metode pembelajaran koperatif  sebagai program sekolah.
2. Para siswanya heterogen ( multi etnis ).
3. Guru-gurunya berpartisipasi dalam pelaksanaan metode pembelajaran koperatif ( Jacob Evelyn, 
    1999).
4. Bahkan sebelum Mr Harris menjadi kepala sekolah, beberapa orang guru sekolah dasar sub urban 
                                                                                                                                                                         6
    Maplewood tersebut  telah berpartisipasi dalam workshop tentang pembelajaran koperatif model 
    Jigsaw ( DW Johnson , 1986 ).
B. Nilai Demokrasi Pada Metode Pembelajaran Koperatif Model Teams Games Tournaments (TGT )
          Makalah ini membahas penggunaan metode pembelajaran koperatif model TGT yang dilaksanakan oleh Mr Grants dalam pembelajaran matematika kelas 4 di sekol;ah dasar wilayah sub urban Maplewood ( USA ). Pembelajaran di awalai dengan pembentukan kelompok, yang setiap kelompok beranggotakan 4 atau 5 orang siswa.  Metode pembelajaran koperatif model TGT di sekolah dasar wilayah sub urban Maplewood ini, setiap kelompok kesil anggotanya berasal dari etnis yang berbeda, budaya berbeda, maupun berbeda kepandaiannya ( heterogen),  tetapi mereka bekerja sama dan saling membantu dalam melaksanakan tugas akademik  Johnson ( DW Johnson, RT Johnson, & Holubac, 1986, 1993a, 1994a ) mengatakan  bahwa pembelajaran koperatif yang baik  mempunyai 5 persyaratan yaitu :
1. Saling ketergantungan positip.
2. Saling berinteraksi dipertahankan.
3. Tanggung jawab secara individual.
4. Keterampilan antar individu dan kelompok.
5. Kelompok pengolah.
          Saling ketergantungan positip dimaksudkan bahwa kesuksesan siswa adalah mata rantai untuk kesuksessan dar yang lain dari teamnya, dan para siswa merasa kalah atau menang dalam permain-an ( lomba ) secara teams menjadi tanggung jawab bersama.
          Jadi metode pembelajaran koperatif  ini lebih menekankan pengaruh interaksi social atau interaksi siswa dengan siswa di dalam kelompok atau team untuk memaksimalkan prestasi belajar teamnya.  Pembelajaran koperatif jika dipandang dari sudut kostruktivisme adalah berfokus pada konstruktivisme sosiologis dari Vygotsky yaitu bahwa masyarakatlah yang membangun pengetahuan dalam arti bahwa fungsi mental yang tinggi bergerak antar seorang dengan orang lain ( between people )  dan di dalam individu ( within individual ). Sedang internalisasi dipandang sebagai proses transformasi  dari aktivitas eksternal ke aktivitas internal ( Vygotsky, Ls , 1978 ).

                                                                                                                                                                       7
          Jadi pembelajaran koperatif model TGT ini, team atau kelompok siswa lah yang membangun pengetahuan melalui kerja sama atau saling membantu untuk memperoleh kesuksesan atau prestasi yang prima dari teamnya. Ini berarti pembelajaran koperatif model TGT  matematika ikut bberperan dalam memperhatikan nilai-nilai potensi individu untuk berpacu dalam prestasi atau menanamkan kepada siswa nilai-nilai demokrasi.
          Kata demokrasi secara etimologis  berasal dari kata demos dan kratos .  Demos sinonim dengan rakyat  atau penduduk , dan kratos sinonim dengan ilmu. Sedang dalam dunia politik demokrasi sering diartikan sebagai dari rakyat untuk rakyat. Demokrasi pada dasrnya mengakui setiap warga                                                                                                                                                                          
Negara sebagai pribadi yang unik, berbeda satu sama lain dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing individu, secara fisik maupun mental.
          Kata pendidikan itu sendiri sangat luas pengertiannya, dapat berarti pendidikan formal dan pendidikan non formal. Pendidikan formal  ini, meliputi  pendidikan dasar 9 tahun  ( SD, SLTP ), pendidikan menengah ( SLTA ), dan pendidikan tinggi ( Perguruan tinggi ). Pendidikan Non formal ini, meliputi  pendidikan dalam keluarga  dan pendidikan di dalam masyarakat.
          Demokrasi pendidikan juga mengakui setiap individu mempunyai hak dan kewajiban yang sama di dalam bidang pendidikan., oleh karena itu pendidikan yang  demokratis  adalah pendidikan yang menempatkan  peserta  didi k  sebagai  individu yang unik, yang berbeda potensinya  satu sama lain dan perlu diwujudkan dan dikembangkan semaksimal mungkin.
          Demokrasi pendidikan  di Indonesia yang tercermin dalam UUD ‘ 45 dapat bermakna sebagai nilai –nilai bahwa :
1. Setiap warga negar berhak menikmati  pendidikan.
2. Setiap warga Negara mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan yang
    sama  untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas.
3. Hak dan kesempatan setiap warga Negara berdasar atas kemampuan masing-masing.
          Berdasar pada nilai-nilai demokrasi pendidikan di atas, maka setiap warga Negara Indonesia mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan formal dari tingkat pendidikan dasar 9 tahun ( SD 6 tahun dan SLTP 3 tahun ), Tingkat pendidikan menengah ( SLTA ) bahkan sampai pendidikan tinggi ( Perguruan tinggi).  Akan tetapi karena setiap orang mempunyai potensi berbeda
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        8
dalam hal kecerdasannya maupun kemampuan perekonomiannya maka untuk mendapatkan pendidikan formal tentu akan berbeda. Apalagi setiap lembaga pendidikan formal dalam penerimaan siswa atau mahasiswa baru berdasrkan hasil seleksi, maka hak dan kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan formal juga menjadi relative tidak sama. Dengan perkataan lain hak dan kesempatan setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan formal juga berdasarkan potensi atau kemampuan masing-masing individu. Itulah yang dimaksudkan dengan demokrasi pen-didikan di Indonesia, akan tetapi demokrasi pendidikan itu juga berlaku secara universal  di setiap Negara di dunia ini.
          Pendidikan dalam arti sempit dapat diartikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi di ruang kelas. Proses pembelajaran hendaknya mencerminkan nilai-nilai demokratis, yang menempatkan siswa sebagai individu yang unik, yang mempunyai potensi ( minat, bakat, cara merspon pelajaran, efisiensi alat dria, kecerdasan, keterampilan, sikap) yang berbeda satu sama lain sehingga perlu menggunakan pendekatan atau metode pembelajaran yang mampu menyalurkan aspirasi mereka. Proses pendidikan hendaknya mampu menciptakan konsep diri yang positip pada siswa. Masing-masing siswa haruslah merasa sanggup, aman, dan menemukan tempatnya masing-masing dalam masyarakat siswa di ruang kelas. Tidak ada siswa yang tidak mengerti atau memahami materi pelajaran yang dipelajari, tetapi semuanya menjadi mengerti baik siswa yang pandai, sedang, maupun yang lemah, karena semuanya mendapat pelayanan dan perhatian yang baik.
          Oleh karena perbedaan individu tersebut maka pembelajaran memperhatikan kharakter masing-masing individu dalam pengertian siswa mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kharakter masing-masing individu. Hal ini akan mudah dilakukan, jika pembelajaran dilakukan melalui metode pembelajaran koperatif atau pembelajaran secara  team.  Team ini bersifat dinamis sesuai dengan kharakter masing-masing individu. Dengan perkataan lain pembelajaran koperatif ini dimaksudkan untuk member kesempatan pada setiap siswa untuk meningkatkan dirinya sesuai dengan kemampuan belajarnya.
          Pembelajaran matematika dengan model TGT merupakan pembelajaran yang menanamkan nilai-nilai demokrasi, karena menghargai setiap siswa untuk mengekspreikan dirinya, tetapi tetap harus memperhatikan aturan team yaitu saling membantu sesame anggota team dalam bersaing dengan team lain sehingga teamnya memperoleh skor yang tinggi. Dalam pembelajaran koperatif model TGT, menempatkan siswa sebagi individu yang unik , dimana setiap siswa mempunyai potensi yang berbeda. Pembelajaran koperatif model TGT , dimaksudkan sebagai upaya untuk mengaktuali-sasikan potensi-potensi yang ada pada dirinya dalam suasana yang penuh keakraban dalam ling-
                                                                                                                                                                           9
kungan belajar team. Setiap siswa sesuai dengan potensi yang dimiliki, diharapkan termotivasi untuk smembantu melakukan aktivitas belajar secara team dalam suasana yang penuh tanggung jawab. Kesuksesan team dalam pembelajaran koperatif model TGT , adalah mata rantai kesuksesan setiap siswa anggota teamnya , dan para siswa merasa bahwa kalah atau menang teamnya  menjadi tanggung jawab bersama.
          Pembelajaran koperatif model TGT lebih menekankan proses pembelajarannya dari pada hasil prestasi setiap siswa, dimaksudkan bahwa melalui proses pembelajaran koperatif , dimana setiap anggota team bekerja bersama dan saling membantu dalam melaksanakan tugas teamnya maka masalah suslit yang dikerjakan secara individu, akan menjadi lebih mudah diatasai jika masalah itu dikerjakan secara bersama-sama. Apabila hal itu dikaitkan dengan hasil prestasi belajar, maka pembelajaran koperatif model TGT akan meningkatkan prestasi belajar team, dan pada gilirannya hasil prestasi belajar secara individualpun juga akan meningkat.
          Peran guru dalam pembelajaran koperatif adalah sebagi fasilitator atau menyediakan fasilitas atau sarana agar proses pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Ini tidak berarti peran guru dalam pembelajaran koperatif menjadi hilang, sebab guru tetap memantau secara aktif proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Melalui pembelajaran koperatif model TGT, siswa diharapkan mampu mengkonstruk sendiri  ilmu pengetahuan melalui keaktipan setiap anggota team atau melalui kerja sama saling membantu sesame siswa dalam satu team, atau dapat juga mendapat bantuan dari kelompok lain melalui tournament team dalam game ( proses pembelajaran).
C. Konsep Pembelajaran Team Game Tournament ( TGT )
          Meskipun metode pembelajaran koperati f secara luas telah dikenal oleh para guru karena telah banyak para guru menggunakan metode kerja kelompok dalam pembelajaran di ruang kelas. Namun metode pembelajaran koperatif model TGT yang digunakan dalam pembelajaran koperatif model TGT yang digunakan dalam pembelajaran matematika siswa kelas 4 sekolah dasar di sub urban Maplewood ( USA) oleh Ny Grant’s belum memasyarakat di sekolah di Indonesia. 
          Pembelajaran koperatif model TGT mempunyai 4 komponen dasar yaitu :
1. Tahap Presentase guru secara klasikal
2. Tahap Pelatihan Pembelajaran model TGT
                                                                                                                                                                     10
3. Tahap team game tournament
4. Penentuan hadiah kemenangan team ( Slavin, 1986, 1994)
1.  Presentase Guru Secara Klasikal
          Materi yang di informasikan guru kepada siswa secara klasikal dapat berupa konsep, algorithma operasi hitung, batasan atau definisi konsep yang  perlu dikuasai oleh siswa. Sumber, bahan, media, metode dan langkah demi langkah kegiatan pembelajaran siswa yang  perlu dipakai untuk menjelaskan materi suatu konsep yang akan disajikan oleh guru kepada siswa. Setelah siswa secara klasikal menerima informasi materi pelajaran secara langsung dari guru, kegiatan selanjyutnya siswa diberi tugas memecahkan masalah secara kelompok atau secara team.
2. Tahap Pelatihan Model Pembelajaran Koperatif Model TGT
          Setelah langkah awal pembelajaran secara klasikal selesai, langkah berikutnya adalah pemben-tukan team. Pada pembelajaran koperatif model TGT ini, Miss Grant’s membentuk team dengan jumlah anggota setiap teamnya dapat terdiri dari :
1. Empat ( 4 ) orang
2. Tiga ( 3 ) orang
3. Dua ( 2 ) orang (berpasangan )
          Langkah selanjutnya, para siswa secara team melaksanakan kegiatan pelatihan pembelajaran koperatif model  TGT dengan aturan sebagai berikut :
1.Setiap team ( kelompok ) menempati kursi-kursi pasangan setiap meja dari setiap meja pertan-
    dingan yang tersedia.
2. Setiap team (kelompok ) diberi tugas memilih kartu nomor pada tumpukan kartu di atas setiap   
    meja pertandingan tempat teamnya. Setiap meja pertandingan terdapat tumpukan kartu ( number 
   chard ), kartu pertanyaan ( question sheet ) dan kartu pasangan jawaban ( Answer Sheet). Kartu-
   kartu tersebut diletakan dengan posisi terbalik di atas tiap meja pertandingan.
3. Setiap anggota team ( keompok) diadakan pembagian tugas lagi sebagai berikut :
                                                                                                                                                                          11
   a. Petugas pembaca soal ( kuis), bertugas mengambil number chard ( kartu ) untuk menentukan
      nomor  soal ( kuis) dan selanjutnya petugas pembaca kuis itu menjawab atau menjelaskan kuis
     tersebut.
   b. Siswa lain dalam teamnya, bertugas member bantuan petugas pembaca kuis  apabila jawaban
       kuis salah kemudian  menyeleksi kesalahan serta membetulkannya.
   c. Jika suatu team penyaji dapat menjawab secara benar, maka number char ( nomor kartu ) disim-
      pan dan memperoleh skor ( nilai ), tetapi jika sebaliknya  ( menjawab salah ) number chard tidak
     disimpan dan tiada memperoleh skor ( nilai ).
  d.  Team lain ( team penentang ) yang menjawab benar , mendapat skor ( nilai )dan menyimpan
       number chard  ( kartu momor )nya, tetapi jika team penentang  dalam menjawab kuis salah
      mendapat sangsi pengurangan skor ( nilai).
  e. Jika tidak ada jawaban yang benar  baik team penyaji maupun team penentang , pelatian TGT
      dilanjutkan, dengan cara mengambil number chard lagi.
  f. Kegiatan pelatihan TGT berlangsung sampai batas waktu yang telah ditetapkan.
  g. Penulis laporan, bertugas menghitung jumlah number chard ( kartu nomor ) yang tersimpan dan  
     menghitung skor ( nilai ) yang diperoleh teamnya serta menulis laporan hasil kerja teamnya ( ke-
    lompoknya ).
            Pembelajaran model TGT  diakhiri dengan perhitungan jumlah kartu yang terkumpul oleh masing-masing siswa setiap team dan kejuaraan masing-masing team berdasarkan jumlah kartu
Yang terkumpul oleh masing-masing siswa atau masing-masing team. Pada tahap pelatihan TGT,
Skor ( nilai ) tidak mendapatkan penghargaan atau hadian.
          Melalui pembelajaran model TGT  ini, diharapkan sisw terbentuk rasa percaya diri (self esteem), rasa peduli terhadap orang lain, terjadi proses seleksi ( membandingkan jawaban ),
                                                                                                                                                                          12
membetulkan kesalahan suatu konsep sehingga terhindar dari kesalahan konsep  ( Slavin, 1986, p.15).
3. Tahap Team Games Tournaments
          Dalam tahap ini dilaksanakan kegiatan tournament game, dengan langkah-langkah kegiatan seperti tersebut pada waktu tahap pelatihan model TGT. Miss Grant’s mencoba beberapa cara untuk meningkatkan perilaku siswa dalam kerja sama team, jangan hanya member dan menjawab suatu pertanyaan dan melaksanakan aktivitas team ( kelompok )
 saja. Miss Grant’s juga memberikan hadiah menambah nilai pada perilaku koperatif, misal menolong satu sama lain dalam menjelaskan jawaban.
          Miss Grant’s memberikan hadiah kepada team ( kelompok ) berdasarkan tingkat kemenangan team, berupa sertfikat atau penghargaan bentuk lain dan dipajangkan pada
Tembok ruang kelas sebagai peta aktivitas kemengan team.
4. Penentuan Hadiah Kemenangan Team
          Team diseleksi berdasarkan jumlah skor ( nilai ) yang dikumpulkan oleh team. Pada
Akhir suatu tournament, para siswa menghitung jumlah kartu-kartu mereka. Skor individu kemudian diberi skor berdasarkan tingkat kemenangan yaitu sebagai berikut :
1. Nilai permainan skor 60 adalah skor relatip tertinggi.
2. Nilai permainan 40 adalah skor relatip sedang.
3. Nilai permainan 20 adalah skor relatip paling rendah.
          Rata-rata dihitung dari jumlah kartu yang terkumpul dari anggota team ditambah nilai
Kerja samanya dalam team dibagi jumlah anggota team, yaitu :
I. Team Super
II. Team Besar
                                                                                                                                                        13
III. Team Bagus.
          Bagi team yang tercatat pada peta aktivitas kemenangan team, mendapatkan sertifikat kemenangan dan mendapat hadiah tambahan yang telah disiapkan.

IV. PENUTUP
          Pendidikan yang menumbuhkan nilai-nilai demokrasi pada siswa, pada dasrnya adalah
upaya melalui proses pembelajaran:
1.Menempatkan siswa sebagai individu yang unik, berbeda satu sama lain dengan kelebihan
    dan kekurangan masing-masing dalam aspek potensinya. Misal aspek ( minat, bakat, cara
    merespon mata pelajaran, efisiensi alat dria, kecerdasan, keterampilan, sikap) satu sama
    lain berbeda. 
2. Diharapkan pada diri siswa akan terbentuk rasa percaya diri ( self esteem), rasa peduli ter-
    hadap orang lain, rasa tanggung jawab terhadap teamnya, sehingga dampak selanjutnya
    akan terbentuk perilalu ikhlas dalam berdedikasi.
3. Menggunakan metode pembelajaran koperatif model TGT, pada diri siswa diharapkan da-
    pat tertanam nilai-nilai demokratis, dapat meningkatkan kualitas prestasi hasil belajar sis-
   wa secara individual maupun secara team.
4. Guru sebagai ujung tombak pembangunan nasional, dapat ikut serta meningkatkan mutu
    Sumber daya manusia Indonesia dalam bidang pendidikan dengan mengaplikasikan meto-
    de pembelajaran koperatif model TGT atau model pembelajaran koperatif lainnya, untuk
    menghadapi tantangan masa depan.
                                                                                                                                                            14
V. Daftar Pustaka
Jacob Evelyn, (1999). Cooperative Learning in Context. New York : State University Plaza, Albany.

Johnson, D.W., & Johnson, R.T, & Holubec, E.J (1986). Circles of Learning : Cooperation in the classroom.  Edine, MN: Interaction Book Company.

Johnson, D.W., & Johnson, R.T, & Holubec, E.J ( 1993a). Circles of Learning : Cooperation in the classroom.  Edine, MN: Interaction Book Company.

Johnson, D.W., & Johnson, R.T, & Holubec, E.J ( 1994a). The New Circles of Learning : Cooperation in the classroom and school. Alexandria, VA : Association for supervision and curriculum development.

Prasetya, 1999. Filsafat Pendidikan. Bandung Pustaka Setia.

Slavin, R.E, (1986 ). Using  Student  Team Learning : The Johns Hopkins Team Learning Project.  Baltimore,  MD : Johns Hopkins Team Learning Project.

Vygotsky, L.S., ( 1978 ). The Development of Higher Psychological Prosesses ( M.Cole V. John-Steiner, S. Scribner, & E. Souberman, Eds, ), Cambridge, MA: Harvard University Press.
                                                                                                                                                                       

         

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar